Antiinflamasi

Antiinflamasi

Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang di sebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-zat mikrobiologik. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktivasi atau merusak organisme yang menyerang, menghilankan zat iritan, dan mengatur derajat perbaikan jaringan. Jika penyembuhan lengkap, proses peradangan biasanya reda. Namun kadang-kadang inflamasi tidak bisa di cetuskan oleh suatu zat yang tidak berbahaya seperti asma. Pada kasus ini reaksi pertahanan diri sendiri mungkin menyebabkan luka progresif, dan obat-obat anti inflamasi atau imunosupresi mungkin mungkin di perlukan untuk memodulasi proses peradangan. Inflamasi dicetuskan oleh pelepasan mediator kimiawi dari jaringan yang rusak dan migrasi sel.
Mediator kimiawi spesifik bervariasi dengan tipe proses peradangan dan meliputi amin seperti: histamin dan 5-hidroksitriptamin, lipid seperti prostaglandin, peptida kecil seperti bradikinin dan peptida besar seperti interleukin. Penemuan variasi yang luas diantara mediator kimiawi yang tampak untuk obat anti inflamasi dapat mempengaruhi kerja mediator utama yang tidak melibatkan mediator target obat.
Glukokortikoid, digunakan untuk menekan inflamasi, alergi, dan respon imun. Terapi antiinflamasi digunakan banyak penyakit seperti asma bronkial, artritis reumatoid, inflamasi berat pada mata dan kulit. Supresi sistem imun bermanfaat dalam mencegah penolakan setelah transplantasi jaringan. Steroid digunakan untuk menekan limfopoiesis.
Mekanisme kerjanya kortison berdifusi ke dalam sel target dan terikat pada reseptor glukokortikoid sitoplasma yang termasuk dalam reseptor steroid. Kompleks reseptor glukokortikoid yang teraktifasi memasuki nukleus dan terikat pada elemen respon steroid pada molekul DNA target dan ikatan ini menginduksi sintesis mRNA sprsifik dengan menghambat faktor transkripsi. Untuk sebagian besar glukokortikoid mempunyai afinitas yang lebih tinggi untuk reseptor, kurang cepat diinaktifasi, dan mempunyai sedikit ataupunn tidak mempunyai sifat menahan garam.
Efek metabolik glukokortikoid adalah memfasilitasi perubahan protein menjadi glikogen. Glukokortikoid menghambat sintesis protein dan menstimulasi katabolisme protein menjadi asam amino. Glukogeno genesis, deposisi glikogen, dan pelepasan glukosa dari hati distimulasi, tetapi glukosa perifer dihambat.
Kortikosteroid mempunyai efek yang nyata dan banyak digunakan untuk antiinflamasi dan imunosupresif, dengan menekan semua fase respon inflamasi, termasuk pembengkakan dini, kemerahan, dan nyeri. Sel-sel imunokompeten dan mkrofag dalam sirkulasi dikurangi dan pembentukan mediator proinflamasi, seperti prostaglandin, leukotrien, dihambat. Steroid menghasilkan efek yang terakhir ini dengan menstimulasinsintesis protein dalm leukosit yang menghambat fosfolipase A2. Enzim ini, terletak dalam membran sel, diaktivasi dalam sel-sel yang rusak dan bertanggungjawab dalam pembentukan asam arachidonat yang merupakan prekurson mediator inflamasi.
Kortikosteroid juga menekan gen yang mengkode reseptor fosfolipae, siklooksigenase. Glukokortikoid menurunkan fungsi monosit/makrofag dan mrngurangi limfosit yangberasal dari timus dalam pelepasan interleukin. Transport limposit ke lokasi stimulasi proliferasi, stimulasi antigenik dan produksi antibodi juga dihambat.
Glukokortikoid menyebabkan efek samping, terutama dalam dosis tinggi yang dibutuhkan untuk aktivitas antiinflamasi. Efek metabolik dosis tinggi dengan cepat menyebabkan wajah pleorik yang bulat (moon face) redistribusi lemak dari ekstremitas ke sumbu dbadan dan wajah. Terjadi stiae ungu dan kecenderungan untuk memar. Gangguan metabolisme karbohidrat menyebabkan hiperglikemia dan kadang diabetes. Hilangnya protein dari otot skelet menyebabkan pengurangan masa dan kelemahan otot. Hal ini tidak dapat diatasi oleh protein dari makanan karena sintesis protein dihambat. Peningkatan katabolisme tulang bisa menyebabkan osteoporosis.
Banyak obat anti inflamasi nonsteroid (AINS) bekerja dengan jalan menghambat sintesis prostaglandin. Jadi penghambatan akan obat AINS memerlukan pengertian kerja dan biosintesis prostaglandin turunan asam lemak tak jenuh yang mengandung 20 karbon yang meliputi suatu struktur cincin siklik.
Prostaglandin dan senyawa yang berkaitan diproduksi dalam jumlah kecil oleh semua jaringan. Umumnya bekerja lokal pada jaringan tmpat prostaglandin tersebut di sintesis, dan cepat di metabolisme menjadi produk inaktif pada tempat kerjanya. Karena itu prostaglandin tidak bersirkulasi dengan konsentrasi bermakna dalam darah. Tromboksan, leukotrien, dan asam hidroksiperoksieikosatetraenoat dan asam hidroksieikosatetraenoat mrupakan lipid yng berkaitan, disintesis dari prekursor yang sama sebagai prostaglndin.

Asam arachidonat, suatu asam lemak 20-karbon, adalah prekursor utama prostaglandin dan senyawa yang berkaitan. Asam arachidonat terdapat dalam komponen fospolipid membran sel,terutama fosfatidil inositol dan kompleks lipidnlainnya. Asam arachidonat bebas dilepaskan dari jaringan fosfolipid oleh kerja fosfolipase A2 dan asil hidroklase lainnya, melalui suatu proses yang dikontrol oleh hormon dan rangsangan lain.

Ada dua jalan utama sintesis eikosanoid dari arachidonat:

  1. Jalan siklo-oksigenase : Semua eikosanoid berstruktur cincin tesis melalui jalan siklo-oksigenase. Telah diteliti dua siklo-oksigenase:COX-1 dan COX-2. Yang pertama bersifat ada dimana-mana dan pembentuk, sedangkan yang kedua diinduksi dalam respon terhadap rangsang inflamasi.
  2. Jalan lipooksigenase : Jalan lain, beberapa lipooksigenase dapat bekerja pada asam arachidonat untuk membentuk 5-HPETE, 12-HPETE, 15-HPETE, yang merupakan turunan peroksidasi tidak stabil yang dikonversikan menjadi dua turunan hidroksilasi yang sesuai, atau menjadi leukotrien atau lipoksin, tergantung pada jaringan.

Kebanyakan efek prostaglandin diperantarai oleh ikatan pada berbagai reseptor membran yang berbeda yang beroperasi melalui protein G, yang kemudian mengaktivasi atau menghambat adenilil siklase atau merangsang fosfolipase C. Hal ini menyebabkan peningkatan pembentukan diasilgliserol dan inositol-1,4,5-trifosfat. PGF, leukotrien, dan tromboksan memperantarai efek-efek tertentu dengan jalan mengaktivasi metabolisme fosfatidilinositol dan dapat menyebabkan peningkatan Ca2+ intraseluler.

Obat-obat antiinflamasi nonsteroid merupakan grup obat yang secara kimiawi tidak sama, yang berbeda aktivitas antipiretik, analgesik dan antiinflamasinya. Obat-obat ini terutamabekerja dengan jalan menghambat enzim siklooksigenase tetapi tidak enzim lipooksigenase.

Obat-obat AINS, mempunyai tiga efek terapi utama, yaitu mengurangi inflamasi (antiinflamasi), rasa sakit (analgesik) dan demam (antipiretika).
• Efek anti-inflamasi : obat dapat menghambat siklooksigenase, sehingga pembentukan prostaglandin dan juga modulasi beberapa aspek inflamasi dan prostaglandin bertindak sebagai mediator.
• Efek analgesik : prostaglandin diduga mensensitisasi ujung saraf terhadap efek bradikinin, histamin, dan mediator kimiawi lainnya yang dilepaskan secara lokal oleh proses inflamasi. Jadi dengan menurunnya sintesis prostaglandin, obat AINS lainnya menekan sensasi rasa sakit.
• Efek antipiretik : demam terjadi jika “set point” pada pusat pengatur panas di hipotalamus arterior meningkat. Hal ini disebabkan oleh sintesis prostaglandin yang di rangsang bila suatu zat demam endogen (pirogen) seperti sitokin di lepaskan dari sel darah putih yang diaktivasi oleh infeksi, hipersensitifitas, keganasan, atau inflamasi. Obat AINSmengembalikan “termostat” kembali ke normal dan cepat menurunkan suhu tubuh penderita demam dengan meningkatkan pngeluaran panas sebagai akibat vasodilatasi perifer dan berkeringat.
• Efek terhadap pernafasan : pada dosis terapi, dapat meningkatkanventilasi alveoli. Pada dosis tinggi bekerja langsung pada pusat pernafasan di medula, mengakibatkan hiperventilasi dan respirasi alkalosis yang biasanya di kompensasi secara adekuat oleh ginjal. Pada kadar toksik, terjadi paralisis pusat pernafasan dan respirasi asidosis yang di akibatkan oleh produksi CO2 secara kontinu.
• Efek terhadap saluran cerna : secara normal, prostasiklin menghambat sekresi asam lambung, sedangkan prostaglandin merangsang sintesis mukus protektif dalam lambungdan usus kecil. Dengan adanya obat AINS, prostanoid-prostanoid tidak terbentuk, yang mengakibatkan sekresi asam lambung meningkat dan mukus protektif.

Secara invitro terbukti bahwa prostaglandin dan prostasiklin dalam jumlah nanogram, menimbulkan eritem, vasodilatasi dan peningkatan aliran darah lokal. Histamin dan bradikinin dapat meningkatkan permeabilitas vaskuler, tetapi efek vasodilatasinya tidak besar. Dengan penambahan prostaglandin, efek eksudasi histamin plasma dan brakinin menjadi lebih jelas. Migrasi leukosit ke jaringan radang merupakan aspek penting dalam proses inflamasi. Prostaglandin sendiri tidak bersifat kemotaktik, tetapi produk lain dari asam arachidonat yakni leukotrien merupakan zat kemotaktik yang sangat poten. Obat mirip aspirin tidak menghambat sistem hipooksigenase yang menghasilkan leukotrien sehingga golongan obat ini tidak menekan migrasi sel. Walaupun demikian pada dosis tinggi terlihat penghambatan migrasi sel tanpa mempengaruhi enzim lipooksignase. Obat yang menghambat biosintesis prosraglandin maupun leukotrien akan lebih poten menekan proses inflamasi.

RASA NYERI
Prostaglandin hanya berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau inflamasi. Prostaglandin menyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi. Jadi prostaglandin menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi serta brankinin dan histamin merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata.
Obat mirip aspirin tidak mempengaruhi hiperalgesia atau nyeri yang di timbulkan oleh efek langsung prostaglandin. Ini menunjukan bahwa sintesis prostaglandi yang di hambat oleh obah ini, dan bukannya blokade langsung.

DEMAM
Suhu badan di atur oleh keseimbangan antara produksi dan hilangnya panas. Alat pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus. Pada keadaan demam keseimbangan ini terganggu tetapi dapat dikembalikan ke normal oleh obat yang mirip aspirin. Peningkatan suhu tubuh pada keadaan patologik di awali penglepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin seperti interleukin yang memicu penglepasan prostaglandin yang berlebih di daerh preoptik hipotalamus. Obat seperti aspirin menekan efek zat pirogen endogen dengan menghambat sintesis prostaglandin (Farmakologi dan Terapi, hal 2005)

Obat – obat yang digunakan antara lain :
• Na-Diklofenak
NSAID yang terkuat anti radangnya, efek sampingnya kurang keras dibandingkan dengan obat kuat lainnya ( indometasin, piroxicam). Obat ini sering digunakan untuk segala macam nyeri, juga pada migraine dan encok. Secara parenteral sangat efektif untuk menanggulangi nyeri kolik hebat (kandung kemih dan kandung empedu).
Resorpsinya dari usus cepat dan lengkap, tapi bioavailabilitasnya rata-rata 55% akibat first pass effect besar. Efek analgetisnya dimulai setelah 1jam. Ekskresi melalu kemih berlangsung untuk 60% sebagai metabolit dan untuk 20% dengan empedu dan tinja ( Tan Hoan Tjay & Karana Rahardja, 2003)

• Ibuprofen
Merupakan golongan propionate, termasuk NSAID yang paling sering digunakan karena efek sampingnya yang relative ringan dan status OTC-nya di kebanyakan negara. Merupakan bentuk campuran rasemis, denganbentuk dextro yang aktif. Memiliki daya analgetik dan antiradang yang cukup baik. Resorpsinya dari usus cepat dan baik, melalui rectal lebih lambat. PP-nya 90-99%, plasma t ½nya 2 jam. Ekskresi berlangsung terutama sebagai metabolit-metabolit dan konjugat-konjugatnya ( Tan Hoan Tjay & Karana Rahardja, 2003)

• Deksametason
Merupakan derivate 9-alfa-fluor, bekerja 6x lebih kuat dari kortisol. Menekan adrenal relative kuat, maka resiko insufiensi juga agak besar. Zat ini digunakan sebagai zat diagnostic untuk menentukan hiperfungsi adrenal (tes-supresi deksametason) ( Tan Hoan Tjay & Karana Rahardja, 2003)

• Metil prednisolon
Mempunyai daya antiinflamasi 20% lebih kuat daripada prednisolon dengan berbagai cara penggunaan oral dan parenteral. Merupakan obat yang paling banyak digunakan pada inflamasi dan alergi tinggi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s