The Unexpected Life : An Unexpected Holiday [Ch 1]

Title :
The Unexpected Life :
An Unexpected Holiday

Author :
swithya_chan

Genre :
Romance, Friendship,

Lenght :
Chapter

Rating :
PG 15

Cast :
YOU as Baek Miinah (OC)
Donghae Super Junior as Lee Donghae
Onew SHINee as Lee Jinki
Kim Hyerim (OC)

Disclaimer:
Beberapa scene terinspirasi dari film, novel, komik favoritku dan selebihnya imanjinasiku.

~Chapter I~

‘I hate this love song.. I hate this love song.’

Aku sedang menyeret koper besarku saat suara GD dan teman-temannya terdengar dari dalam mini bag yang tergantung di bahuku. Aku merogoh mini bag-ku, berusaha mencari sumber suara tersebut.  Jinki calling.

Seseorang berwajah chubby yang memiliki eye smile terbayang di benakku saat melihat screen ponselku. Lee Jinki, salah satu sahabatku. Laki – laki yang tak kalah jenius dengan si kakek Einsten. Namun wajah Jinki di benakku lenyap seketika saat jariku menekan salah satu tombol pada ponselku dan suara nyaring seorang perempuan terdengar dari seberang.

“Yakk… Baek Miinah!!!”

Aku menjauhkan ponselku beberapa meter dari daun telingaku, berharap dapat meredam suara nyaring itu. Aku tak menyahut saat terdengar omelan pemilik suara nyaring itu. Setelah memastikan si pemilik suara tersebut sedang mengambil nafas karena kelelahan, aku mulai bicara, ”Mengomel tak baik untukmu dan calon bayimu, Nyonya Lee.”

“Dia sedang mengambil minum. Dia kesal karena kau berlibur tanpa mengajaknya,” jelas seseorang yang dapat aku pastikan adalah Jinki.

Aku berniat mengatakan sesuatu namun suara nyaring wanita yang tak lain adalah Hyerim, istri Jinki yang juga merupakan sahabatku terdengar kembali. “Kejam sekali kau tak mengajakku,” rajuk Hyerim. Nada suaranya terdengar lebih tenang sekarang. Sepertinya artikel yang aku baca tentang kehamilan yang membuat emosi seorang wanita naik turun ternyata terbukti.

Mianhaeyo, Rim-ah! Aku hanya ingin berlibura sendirian, akan sangat merepotkan juga berlibur bersama seorang wanita berperut besar.”

Hyerim bergumam tak jelas. Kesal karena menyebutnya seperti itu. “Bagaimana Yonghwa Oppa? Kau sudah mengabarinya kan? Aku tak mau dia panik melihatmu tak ada di apartemen. Ingat, Sabtu minggu depan adalah jadwal fittingmu.”

Aku terdiam mendengar nama Yongwa Oppa dan kata ‘fitting’ disebut. Mana mungkin aku melupakan acara itu? Fitting untuk pakaian pertunanganku adalah hal yang sudah aku tunggu beberapa minggu yang lalu.

“Miinah-ya, kau masih ada di sana kan?”

“Emm,” gumamku tanpa menjawab pertanyaannya. Aku merasa ini bukan waktu yang tepat membicarakan Yonghwa Oppa.

“Oh ya, kau akan berlibur kemana?”

“Entahlah. Aku belum tahu.”

“Yakk!! Apa maksud…”

Aku menjauhkan ponselku lagi sehingga suara Hyerim tak begitu terdengar. Aku membalas senyuman ramah seorang wanita di depanku. Aku menoleh ke jam digital yang terpampang di belakang wanita itu. “Apakah tiket untuk pemberangkatan 30 menit lagi masih tersedia?”

Wanita tersebut menatapku sedikit heran tapi kemudian dia segera menyibukkan diri dengan layar di depannya. “Masih ada, Nona.”

“Baiklah, saya pesan satu tiket untuk tujuan.… Mm, maaf. Boleh saya tahu tujuannya?”

“Tokyo, Jepang,” jawab wanita itu dengan tatapan semakin heran.

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. “Hyerim-ah, aku akan berlibur ke Tokyo,” ucapku pada Hyerim di ponsel. Aku tahu kalian pasti berpikir jika aku sudah gila karena berlibur tanpa perencanaan yang jelas. Tapi ya,  mungkin aku memang sudah gila sejak melihat Yonghwa Oppa berciuman dengan orang yang selama ini sangat aku percayai.

***

Aku duduk dengan tegang. Ini memang bukan pertama kalinya aku menggunakan pesawat sebagai tranportasi perjalananku tapi aku tak begitu menyukainya. Motion sickness membuatku tak bisa menikmati perjalanan.

“Agassi, kau baik-baik saja?” seorang halmeoni yang duduk di samping kananku menatapku dengan cemas.

Ne, saya baik – baik saja,” aku mencoba tersenyum.

“Kau sedang sakit? Kau tampak pucat.”

Aku menggeleng lemah.

“Yakk, kau! Bangunlah!” tiba-tiba sang halmeoni melempar majalah yang tadi dipegang ke orang di sebelah kiriku.

Aku hanya bisa hanya mengernyitkan dahi, melihat tingkah halmeoni itu. Aku mengalihkan pandanganku ke sebelah kiriku takut–takut. Aku takut jika orang itu terbangun dan marah dengan kelakuan si nenek. Tapi orang itu tak bergeming. Selimut yang menutupi seluruh tubuhnya sama sekali tak bergerak. Sang nenek pun bangkit berdiri dan menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh orang itu.

Orang itu pun terbangun. Raut kekagetan sangat tercetak dengan jelas di wajahnya yang tampan. Tampan? Ya, wajahnya yang seperti para idol yang sering aku lihat di Music Bank atau Music Core itu cukup membuatku melupakan motion sickness yang melandaku tadi. Laki – laki itu melepaskan headphone yang melingkar di kepalanya. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya bingung.

Aish, tampan sekali kau!” ujar halmeoni itu dengan genit. Raut kesal yang tadi sempat terselip di wajah si nenek menghilang.

“O.. eh… gamsahamnida.” Laki – laki itu terlihat salah tingkah.

“Oh ya, istrimu ini sepertinya sedikit mual. Sebaiknya kau meminta obat pada pramugari untuknya,” ucap halmeoni sambil melirikku.

Ehh, istri? Istri siapa? Aku menoleh ke arah orang itu. Dia pun tampak bingung tapi kemudian tersenyum. “Maaf, tapi….” Aku mencoba menjelaskan namun terpotong dengan ocehan halmeoni itu.

“Kau beruntung. Suamimu tampan sekali,” ucap halmeoni itu.

“Tapi…,”

“Ahh.. Aku jadi merindukan suamiku.” Halmeoni itu menerawang seakan teringat sesuatu.

“Maaf, tapi…” Kalimatku terputus begitu saja saat laki–laki itu bersuara memanggil seorang pramugari.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pramugari itu ramah.

Aku melirik ke laki-laki itu. Selimut sudah kembali menutupi seluruh tubuhnya. “Bisa saya minta tablet antihistamin?” ucapku diikuti anggukan pramugari itu.

***

Hari semakin larut tapi aku masih menyusuri jalanan di Tokyo yang masih terlihat ramai. Ini akibat dari kegilaanku yang semakin memuncak. Aku memutuskan untuk berjalan kaki untuk mencari hotel tempat aku menginap. Sebuah keputusan yang bodoh karena ini adalah pertama kalinya aku datang ke Tokyo sejak usiaku menginjak kepala dua.

“@#$$%@$@!” Teriakan tak jelas terdengar dari arah jalan kecil yang ada di depanku. Aku menyeret kaki dan koperku menuju arah suara itu.

~tbc~

Author note :
Gimana part I ini?? Kurang puas?? Terlalu pendek?? Hahaha… Maafkan author gaje ini. Aku gak begitu suka nulis FF yang terlalu panjang di tiap chapter karena sedikit takut reader bakal bosan. Tapi jangan khawatir, doakan saja minggu depan bisa aku publish lanjutan FF ini. Terakhir, plis komen FF ini. Menyakitkan rasanya liat yang view banyak tp gak ada yang ninggalin komentar sama sekali. Dan aku harap gak kejadian lagi sama FF ini. Entah komentar buruk ato baik, aku terima dengan lapang dada. Thank you!! *bow*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s